Jumat, 29 Maret 2013

WISATA ALAM DI DESA ONJE MREBET PURBALINGGA

   Keindahan Alam yang disuguhkan secara alami, menambah kepuasan tersendiri dalam kehidupan kita. Sungai yang mengalir deras dan bukit-bukit yang terhampar hijau membuat suasana hati kita menjadi tenang.

          Bertempat di sebuah desa Onje, yang terletak di kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Wisata Alam Onje disuguhkan secara alami oleh masyarakat Onje pada khususnya dan Pemerintah Purbalingga pada umumnya. Daerah wisata onje ini merupakan daerah tujuan wisata yang cukup lengkap di bagian Utara Kabupaten Purbalingga ini, disamping ada objek wisara OWABONG, Taman Reptil, dan objek objek wisata lainnya. Adapun Daerah Wisata Alam Onje tersebut mencakup objek objek wisata sebagai berikut :
Objek Wisata Alam
          Keberadaan Objek wisata ini masih belum banyak dikenal orang, Objek Wisata Alam Onje dikunjungi oleh mereka yang senang dengan Petualangan Alam dan olahraga Arung jeram maka tak heran apabila pengunjung yang mendatangi objek ini cenderung berkelompok dan untuk berolah raga ketimbang untuk berdarmawisata menikmati keindahan alamnya. Namun tak banyak yang meluangkan waktunya untuk berpetualangan selama 3 hari yang dipandu oleh masyarakat Onje. Pengunjung disuguhkan dengan keindahan alam yang tersaji secara alami, kepuasan bertambah tatkala pengujung berpetualang layaknya sedang bertahan hidup di sebuah Hutan, berjalan di tepian sungai, masuk hutan, makan dan minum dari alam. Namun Kegemaran pengunjung ini menjadi sebuah andalan wisata Alam di Onje. 


Objek Wisata Budaya dan Religi
            Selain keindahan alam nya yang mengagumkan, Wisata Alam Onje juga menyimpan sebuah cerita budaya yang tak kalah mengagumkanya dengan Objek Wisata Alamnya, yakni Wisata Budaya dan Religinya. Menurut cerita, Desa Onje merupakan awal mula dari Kabupaten Purbalingga, yang pada waktu itu di Pimpin oleh seorang adipati bernama Adipati Onje. Berbagai cerita adipati Onje tersebut, di buktikan dengan adanya berbagai macam peninggalan sejarahnya, seperti Yoni ( tempat menaruh sesajian), Pohon Belimbing (konon merupakan tongkat Adipati Onje) dan peninggalan Budaya lainya. Disamping itu juga terdapat sebuah masjid tua yang didirikan oleh Raden Syahid Kuning pada masa perwalian dan konon di bangun 1 abad sebelum Masjid Demak didirikan. Sebuah peninggalan budaya dan religi yang sampai sekarang masih dilestarilkan keberadaanya. Disamping itu pula terdapat Makam keramat Adipati Onje, Imam Masjid Syahid Kuning dan pengikutnya, Kali Pertelon ( Pertemuan antara 3 sungai ), dan masih banyak lagi objek wisata budaya dan religi lainya. Tak heran kalau banyak para Pejabat datang ke Desa Onje untuk sekedar menginginkan ketengan batin dan menimba pengetahuan budaya disini.
 
             

                 Masjid Syahid Kuning Desa Onje

                 Nimatilah Petualangan Alam anda bersama Wisata Alam Onje, dan dapatkan kepuasan yang tidak bisa anda dapatkan di Objek Wisata manapun.


SEJARAH RADEN SAYYID KUNING ONJE

Raden Sayyid Kuning


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Tokoh Raden Sayyid Kuning
Mengenai tokoh Raden Sayyid Kuning ini penulis memang penuh hati-hati dalam menuliskannya, karena dalam naskah Babad Onje nama Sayyid Kuning tidak disebut, yang disebut adalah sebuah nama Ngabdulah Syarif yang berasal dari Timur Tengah dia bertemu dengan Syarif  Hidayatulloh (Sunan Gunung Jati) di Cirebon dan ditugaskan untuk melakukan Islamisasi di Purwokerto tepatnya di desa Karangluas bersamaan dengan Syekh Madum Wali dan Syekh Madum Umar. Syekh Madum wali mempunyai Pondok Pesantren dan Ngabdulah Syarif diperbantukan untuk mengajar di pesantren tersebut. Karena di tanah Onje belum ada yang mendalami ilmu agama, sewaktu  Adipati Onje yang bernama Hadiwijaya ke-2 atau Nyokropati yang masih mempunyai hubungan keluarga dengan Syekh Madum Umar yang merupakan mertua dari Adipati Onje yang mempunyai istri Keling Wati dan merupakan anak dari Syekh madum Umar, setelah mengetahui ada pemuda mengajar mengaji di pondok tersebut maka diambilah dia sebagai Imam sekaligus dinikahkan dengan anak wanitanya yang bernama Kuning Wati dan Ngabdulah Syarif menetap di Onje setelah Ngabdulah Syarif menjadi penghulu dia akrab dipanggil Raden Sayyid Kuning yang sampai sekarang namanya digunakan sebagai nama masjid di desa Onje, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga.
B.     Legenda  Masjid Sayyid Kuning
Untuk membandingkan sejarah yang sebenarnya berdirinya Masjid Sayyid Kuning, perlu dikemukakan tentang legenda masjid Raden Sayyid Kuning. Legenda yang berkenaan dengan masjid Raden Sayyid Kuning merupakan suatu keunikan tersendiri bagi setiap bangunan yang bersifat sakral. Legenda-legenda tersebut kecuali mengandung nilai filosofis yang tinggi, juga dapat dicari nilai-nilai sejarah yang ada di dalamnya. Legenda tentang masjid Raden Sayyid Kuning, meskipun semua tidak berkenaan dengan sunan, namun dalam hal ini sunan menduduki tempat yang penting.
Sejarah Masjid Raden Sayyid Kuning diambil dari kisah Babad Onje yang merupakan cikal bakal kabupaten Purbalingga. Menurut para sesepuh desa Onje, keberadaan masjid Onje sebenarnya jauh sebelum adanya masa desa onje. Diceritakan bahwa sebelum datangnya seorang tokoh ke Tempat yang kemudian bernama desa Onje sudah ada masjid di desa tersebut. Tokoh tersebut bernama Ki Tepus Rumput. Diceritakan oleh tokoh sesepuh desa Onje bahwa masjid tersebut yang mendirikan adalah para Wali Sanga. Meskipun dikisahkan bahwa tidak semua ikut mendirikan. Disebut yang ikut mendirikan masjid adalah  Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga. Kelima sunan tersebut di atas sebelum masuk ke Onje, terlebih dahulu mendirikan masjid di Desa Keramat Kabupaten Tegal. Kemudian, di desa Gunung Jimat Kabupaten Pemalang. Di tempat itulah bertemu dengan Syekh Maulana Mahribi yang mempunyai nama lain Ki Tepus Rumput.
Syekh Maulana Mahribi di tempat tersebut sedang mengejar Syeh Jambu Karang yang lari ke Gunung Jim Belik. Kemudian Syekh Maulana Mahribi menyuruh kelima sunan tersebut untuk pergi ke arah selatan (desa Onje, Purbalingga). Kalau kelima sunan itu tidak pergi ke selatan (Onje) maka Syekh Jambu Karang tidak akan keluar dari Gunung Jimat. Kelima sunan seperti diatas adalah Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga.
Para sunan tersebut sebelum mendirikan masjid Onje bermusyawarah terlebih dahulu di tepi sungai Tempuran Tiga atau yang lebih dikenal Kedung Pertelu. Diceritakan bahwa sehabis bermusyawarah para sunan pergi naik menuju tempat untuk mencari kiblat. Tempat inilah yang sekarang menjadi perempatan tempat di depan masjid sekarang. Ternyata dari kelima sunan tersebut ada seseorang sunan yang tidak ikut naik dan masih berada di sungai, yaitu Sunan Gunung Jati. Yang ternyata sedang mengiringi batu dari tepi sungai. Batu-batu itulah yang digunakan untuk benteng masjid sebelah selatan dan sampai sekarang benteng tersebut masih berdiri meskipun masih dipermanen.
Sunan Kalijaga juga telah member isyarat kepada sunan lainnya untuk mencari arah kiblat. Maka Sunan Kali Jaga menghadap ke utara, timur, selatan, barat dan beliau mengajungkan jari kearah barat batu kiblat. Kemudian para sunan lainnya menuju kearah barat. Hanya sunan Gunung Jatilah yang tidak ikut dikarenakan sedang memasang batu di sebelah selatan.
Menurut para sesepuh desa Onje yang memahami sejarah, masjid didirikan jam satu malam sesudah shalat tahajud. Sesudah menegakan tiang empat yang terbuat dari tatal, kemudian memasang selorok dan kemudian memasang atap yang terbuat dari ijuk abyad. Setelah selesai mendirikan tiang atau saka empat dan atapnya, diteruskan membuat mimbar bedug, satu batu dipasang disebelah timur tepatnya di bawah atap tetesan air (tritisan/titikan). Para sunan belum sempat membuat pagar mereka meneruskan perjalanan/pindah ke Demak.
Diceritakan bahwa pada masa Kadipaten Onje, masjid yang sudah berdiri tersebut diteruskan pengelolaannya oleh Ki Tepus Rumput dan putra angkatnya yaitu Adipati Onje II yang bernma Nyokropati. Pada masa inilah datang seorang penyebar agama Islam ke Kadipaten Onje. Yaitu Raden Sayyid Kuning yang mempunyai nama asli Ngabdulah Syarif Raden Sayyid Kuning beliau meneruskan dalam mengelola masjid bahkan menjadi Imam masjid pertama. Ngabdulah Syarif Sayyid Kuning sebelum datang ke Kadipaten Onje, beliau mengajar/mengaji kepada Sunan Drajad. Kemudian menyebarkan agama Islam ke Karang Lewas, Purwokerto. Di tempat inilah beliau bertemu dengan Kyai Arsayuda menantu Arsantaka dan bersama-sama menyebarkan agama Islam bersama dengan Syekh Mahdum Wali dan Syekh Mahdum Umar. Namun Sayyid Kuning meneruskan ke Kadipaten Onje (Kabupaten Purbalingga sekarang) dan dijadikan menantu Adipati Onje.
Raden Sayyid Kuning membuat dari Kayu Sidaduri. Namun bedug tersebut diberikan kepada murid/santrinya yang berasal dari Purbasari. Kemudian Raden Sayyid Kuning membuat bedug lagi yang terbuat dari kayu Duren Siklambi. Konon kayu tersebut adalah pohon yang sering digunakan oleh Adipati Onje II untuk menggantungkan baju sewaktu dia mandi di Sungai Paingen, maka pohon tersebut dinamai Pohon Duren Siklambi. Ada yang pernah mengatakan bahwa bedug masjid Onje berbunyi sendiri. Pada suatu ketika memang ada orang yang mendengar bedug berbunyi sendiri tanpa ada yang memukulnya. Ada pula yang pernah mengalami kejadian aneh yaitu seorang peziarah yang sedang melakukan mujahadah  ritual di masjid menceritakan bahwa mendengar adanys suara kletek-kletek. Kemudian, dicari oleh orang tersebut ternyata tidak ada apa-apa. Disamping itu, ada juga orang yang mengalami kejadian aneh lainya yaitu suara seperti motor di starter dari arah bedug, kemudian orang tersebut mendekati bedug dan disenteri, ternyata welulang bedug bergerak keluar masuk. Dan orang tersebut keluar dari masjid dengan lari ketakutan.
C.    Latar Belakang Sejarah Berdirinya Masjid Sayyid Kuning.
Pada Abad 14 M desa Onje belum ada dan belum bernama Onje masih dalam kondisi alas (Hutan, Gunung liwang-liwung). Datanglah seorang pengelana yang bernama Syekh Samsyudin. Beliau adalah utusan raja dari Negara Arab untuk datang ke Jawa. Karena di Jawa sedang terkena pageblug (wabah). Syekh Samsyudin singgah di suatu tempat yang sekarang bernama Onje. Beliau istirahat untuk melaksanakan shalat. Tempat untuk shalat itu adalah sebuah batu. Di tempat inilah yang kemudian berdiri sebuah Masjid. Batu tersebut sekarang tersimpan dibawah lantai keramik tepatnya di bawah mimbar Masjid Raden Sayid Kuning. Meskipun tidak atau belum ada catatan sejarah namun  cerita turun-temurun ini tetap ada dan berkembang di Masyarakat Onje, bahkan sebagian besar percaya kebenarannya. Dan narasumber menceritakan bahwa peristiwa itu terjadi pada sekitar abad ke-14 M.
Pada waktu itu menurut (M. Maksudi), ada seorang Wali singgah di pelataran jojok telu. Mereka mengadakan suatu musyawarah. Selanjutnya, mendatangi sebuah tempat yang sekarang menjadi perempatan masjid. Kemudian menuju ke arah Barat dan disitulah terdapat batu yang kemudian dipakai untuk shalat. Sesuai melaksanakan shalat mereka mendirikan sebuah bangunan yang berbentuk masjid. Belum keseluruan bangunan itu selesai mereka meninggalkan tempat itu. Mengenai tokoh Sayyid Kuning ini penulis memang penuh hati-hati dalam menulisnya. Karena dalam naskah babad Onje nama Sayyid Kuning tidak disebutkan hanya “Ngabdulah ing Onje” sebagai pengulu di Onje, pada masa Kadipaten Onje dengan Adipati Anykrapati sebagai adipatinya.
Bangunan peninggalan wali yang berbentuk masjid diperbaiki atau dipugar. Kayu yang di pakai adalah kayu jati yang berasal dari Jati Wangi. Sebagai seorang adipati, Adipati Anykrapati melengkapi tugas pemerintahannya di bidang keagamaam. Yaitu dengan mengangkat Ngabdullah Syarif sebagai pengulu Kadipaten. Ngabdullah Syarif adalah seorang pengulu besar yang berasal dari Cirebon. Selain itu sebagai pengulu beliau juga merupakan imam Masjid Onje, yang mengeloloa dan mengurus masjid. Ngabdulah Syarif lebih dikenal dengan nama Raden Sayyid Kuning. Nama tersebut dipakai setelah beliau menjadi kerabat Adipati Onje II. Dengan memperistri putrinya yang bernama Kuningwati. Putri dari Kelingwati istri Adipati Onje II. Yang berasal dari Kadipaten Pesisir Luhur.
Tahun 1940 waktu itu Onje sudah menjadi desa di bawah pemeritahan Bupati Purbalingga. Pada tahun inilah Masjid Onje untuk pertama kalinya direhab. Semenjak diperbaiki pada masa kadipaten dan perdikan sampai dengan pemerintahan Kabupaten Purbalingga. Pada saat itu Desa Onje dipimpin oleh seorang Penatus/Lurah/Kepala Desa yang bernama Arsaredja. Di Desa Onje sampai dengan taun 1980-an ada satu masjid. Sampai pada tahun 1983 dibangun masjid lainnya hal ini yang menggugah para jamaah dan pengurus masjid Onje unuk memberi nama masjid yang hanya terkenal dengan sebutan masjid Onje. Untuk pemberian nama masjid para pengurus bermusyawarah sekiranya nama apa yang tepat untuk masjid tersebut.
Ada beberapa usulan nama yang disampaikan pada saat musyawarah. Namun akhirnya karena ada beberapa hal yang perlu ditanyakan kepada kesepuhan, maka pengurus masjid dan beberapa jamaah sowan (berkunjung) ke tempat Habib Lutfi bin Yahya di Pekalongan. Maka Habib Lutfi bin Yahya memberikan saran dan nasehatnya yang kemudian diterima oleh pengurus masjid serta perwakilan jamaah. Masjid Onje diberi nama Masjid Raden Sayyid Kuning oleh Habib Lutfi. Maka boleh dikatakan bahwa pemberi nama untuk masjid Onje adalah Habib Lutfi bin Yahya seorang ulama besar yang berasal dari kota Pekalongan, Jawa Tengah.
Sejak itulah masjid yang hanya dikenal dengan masjid Onje dikenal dengan nama Masjid raden sayyid Kuning. Nama tersebut mengandung makna tersendiri, terutama dengan sejarah keberadaan masjid tersebut. Ada beberapa pendapat mengenai nama-nama Imam Masjid Onje. Berikut ini  nama-nama Imam Masjid Raden Sayyid Kuning. Yang penulis peroleh dari penuturan para narasumber dan sesepuh masjid, yaitu:
1.    Raden Sayyid Kuning/Ngabdullah Syarif Sayyid Kuning
2.    Kyai Samirudin
3.    Kyai Ibrahim
4.    Kyai Ilyas
5.    Kyai Murmareja bin Mustahal
6.    Kyai Murjani
7.    Kyai Ibrahin
8.    Kyai Sanrawi
9.    Kyai Masngadi tahun 1945-1996
10.Khotib H. M. Soemarno tahun 1996-2007
11.Kyai M. Maksudi
Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Desa Onje Nomor Tahun 2008, beliau sebagai pengganti Kyai Masngadi, dan masih bersifat Pelaksanan Tugas (sampai dengan tahun 2010 ini belum definitif).

SEJARAH DESA ONJE

SEJARAH DESA ONJE
Orang Onje mengklaim dirinya keturunan langsung raja Pajang melalui putri
Menoreh yang sedang hamil empat bulan yang diserahkan kepada Ki Tepus Rumput
(versi lain Syekh Maulana Maghribi). Pengakuan semacam ini penting bagi suatu
pusat di lokalitas tertentu agar mereka beserta keturunannya dapat lebih eksis dan
melewati masa kekuasaan yang panjang sehingga mereka akan bisa melegitimasikan
diri sebagai penguasa lokalitas yang sah. Oleh karena itu, Babad Onje senantiasa
menghubungkan diri dengan penguasa pusat yang lain seperti kadipaten Cipaku
dan Medang (versi lain Pasirluhur), bahkan pusat kerajaan Jawa yang berkuasa
pada masa itu sehingga nama-nama raja itu disebut secara berurutan seperti tampak
pada teks Babad Onje, yaitu Sultan Pajang, Ki Ageng Mataram, Pangeran Sayidiyah
Kemuning, Pangeran Sayidiyah Krapyak, Sultan Kuwasa, Suhunan Plered, Suhunan
Mas, dan Suhunan Paku Buwana (Purwaningsih 1986: 20-21). Penyebutan rajaraja
itu memang tidak konsisten, terutama nama dan gelarnya, bahkan nama
Mangkurat Amral tidak disebutkan. Tampaknya keberadaan raja-raja tersebut itu
penting karena Susuhunan Mangkurat Mas atau Mangkurat III pernah mengambil
gadis Onje sebagai salah seorang selirnya (Teeuw tt: 22). Teks Babad Tanah Jawi
edisi Meinsma menyatakan bahwa Pangeran Adipati Anom yang sudah memiliki
istri utama (raden ayu adipati) kehidupannya tidak akur dengan istrinya itu karena
Adipati Anom mengambil dua orang selir, yaitu satu keturunan orang Kalang dan
yang lainnya berasal dari Onje (Olthof 1941: 247). Rupanya gadis Onje ini bisa
merebut cinta kasih Adipati Anom sehingga statusnya dinaikkan menjadi garwa
meskipun Raden Ayu dari Kapugeran itu terkenal kecantikannya. Namun, Raden
Ayu akhirnya dikembalikan kepada ayahnya, yakni Pangeran Puger dan gadis Onje
itu diangkat kedudukannya dengan nama Ratu Kencana (Olthof 1941: 250-262).
Ketika Pangeran Puger menjadi raja dengan gelar Susuhunan Paku Buwana I,
Kadipaten Onje menurut teks Babad Onje itu berakhir. Keberakhiran Onje sebagai
kadipaten kemudian statusnya menjadi desa perdikan di bawah kekuasaan Kiai
Ngabehi Denok di Pamerden. Ki Pangulu Onje (Kiai Ngabdullah) ditetapkan sebagai
orang yang mengurusi perdikan dengan wilayah Tuwanwisa, Pesawahan, dan Onje,
206
serta berkewajiban memelihara makam leluhur di Onje dan mendirikan salat Jumat
Demikianlah sekilas gambaran Onje secara umum sebagaimana dilukiskan oleh
teks Babad Onje. Teks tersebut, sebagai suatu karya sejarah masa lalu Onje, perlu
dijelaskan keberadaannya karena teks tersebut masih eksis, baik dalam bentuk
naskah, manuskrip, maupun tradisi lisan (folklor). Babad Onje yang disebut di atas
adalah teks yang terkandung dalam naskah yang dimiliki atau tersimpan oleh S.
Warnoto, seorang penduduk desa Onje yang secara tradisi berhak menyimpan
naskah. Ia adalah kakak kepala desa Onje Soepono Adi Warsito yang mempunyai
dua orang anak laki-laki. Seseorang yang mempunyai dua orang anak laki-laki berhak
menyimpan naskah Babad Onje tersebut (Purwaningsih 1986: 5). Naskah pegon
yang berukuran 10,5 X 8,5 cm dan tebal 137 halaman (30 halaman di antaranya
kosong) menyatakan judulnya Punika Serat Sejarah Babad Onje. Naskah tersebut
setiap halamannya berisi 7 baris dengan teks berbahasa Jawa (Purwaningsih 1986:
Babad Onje, sebagai produk kebudayaan, tampaknya merupakan teks yang
menjelaskan peristiwa sejarah cikal-bakal masyarakat Onje dengan segala pengaruh
kekuasaan politiknya. Kesejarahan Onje diakui oleh kalangan yang lebih luas berkat
hadirnya teks Babad Onje tersebut. Tanpa adanya teks Babad Onje, masyarakat
yang hidup di lokasi tersebut tidak mengakui kehadiran Onje di tengah-tengah
interaksi sosial. Hal itu berbeda dengan Cipaku yang dikenal sebagai rival Onje.
Cipaku sebagai daerah kadipaten memang tidak disebut dalam teks Babad Onje
sebagai daerah bagian Onje. Jadi, Cipaku berdiri sendiri sebagai kadipaten yang
setara dengan Onje. Namun, Onje lebih menonjol karena mereka menghasilkan
Babad Onje, sedangkan Cipaku tidak memiliki karya yang serupa untuk menunjukkan
eksistensinya. Anehnya, masyarakat Cipaku justru menghasilkan naskah yang sejenis
dengan Babad Onje, yaitu naskah yang berjudul Serat Sejarah Rupi Onje. Naskah
tersebut merupakan koleksi Baruna, seorang yang menjabat sebagai Penatus Cipaku,
Kecamatan Mrebet (Darmosoetopo, 1977). Kiranya naskah produk Cipaku tersebut
adalah naskah salinan dari milik S. Warnoto. Istilah rupi yang dipakai mengisyaratkan
adanya proses penyalinan langsung. Perbandingan teks di antara kedua naskah
memang menunjukkan bahwa naskah yang kedua disalin dari naskah yang pertama.
Berdasarkan naskah Cipaku, dapat dinyatakan bahwa pengaruh Babad Onje
cukup meluas dan melewati batas-batas wilayah kadipaten atau perdikan Onje
sebagaimana yang disebut di dalam teks tersebut, termasuk di antaranya adalah
Cipaku. Bahkan, di kemudian hari teks Babad Onje dipakai sebagai suatu pengantar
terhadap teks yang baru, yang berkaitan dengan keluarga para bupati Purbalingga
sehingga teks Babad Purbalingga lahir. Kelahiran teks tersebut disebabkan adanya
hubungan kekerabatan bupati Purbalingga dengan Onje melalui tokoh Arsantaka
yang diyakini oleh penulis Babad Purbalingga bahwa tokoh Arsantaka adalah anak
Adipati Onje, Ore-ore dengan Nyai Pingen, setelah kasus pembunuhan kedua orang
istri sang adipati tersebut yang berasal dari Medang dan Cipaku. Ada fenomena
yang menarik di sini karena Babad Onje dipakai sebagai alat legitimasi yang baru.
Babad Onje tidak lagi hanya sebagai alat pengesahan dan penegasan terhadap
keberadaan masyarakat Onje pada masa lampau, tetapi juga sebagai legitimasi asalmula
para bupati Purbalingga setelah ada dua orang keturunan Banyumas yang
mengawali jabatan tersebut. Para bupati Purbalingga tampaknya lebih memilih Onje
daripada dua pusat yang lain, yakni Cahyana dan Wirasaba. Wirasaba sebagai pusat
yang lebih tua daripada Onje kelihatannya sudah dipakai oleh keturunan para bupati
Banyumas sehingga Purbalingga merelakan diri untuk melepaskan hubungan
psikologisnya dengan Wirasaba karena kedudukan Wirasaba lebih dekat dengan
Banyumas daripada Purbalingga. Hal itu sudah disadari oleh Purbalingga sehingga
mereka harus mencari pusat lain yang masih bebas dari klaim keluarga yang lain.
Klaim orang Banyumas yang terlalu kuat terhadap Wirasaba membuat orang
Purbalingga kehilangan. Padahal, Wirasaba sebagai pusat yang tertua keberadaannya
sangat penting bagi Purbalingga, tetapi akibat klaim Banyumas, maka mereka
mencoba melepaskan hubungan mereka dengan Wirasaba. Purbalingga menciptakan
tokoh baru, yakni Arsantaka (Wangsantaka) dan Yudantaka sebagai penghubung
Purbalingga dengan Onje meskipun hubungan itu diragukan. Untuk menyaingi
Banyumas mereka menjelek-jelekkan dua orang tokoh Banyumas yang pernah
berkuasa di Pamerden, yaitu Ngabehi Dipayuda I atau Dipayuda Seda Jenar dan
Dipayuda II atau Dipayuda Seda Banda. Persaingan keluarga Arsantaka dengan
keturunan Ngabehi Dipayuda I menyebabkan munculnya tabu nikah di antara keluarga
tersebut yang dilontarkan dari pihak Ngabehi Dipayuda Seda Jenar karena keluarga
tersebut merasa menjadi korban permainan ilmu hitam. Keluarga Arsantaka merasa
kehadiran keluarga Dipayuda I bisa mengganggu kedudukan mereka. Ngabehi
Dipayuda I sebagai adik Tumenggung Yudanegara III, bupati Banyumas disebut
juga di dalam teks Babad Onje dengan nama Ngabehi Denok, sedangkan Dipayuda
II sering disebut Dipayuda Gabug. Tokoh Dipayuda yang kedua ini adalah putra
Tumenggung Yudanegara III yang di dalam teks Babad Banyumas disebut orang
yang meninggal karena Seda Banda ‘terkena penyakit kelamin’ sehingga ia dikenal
tidak meninggalkan keturunan yang pantas menggantikan kedudukannya. Justru yang
menjadi penggantinya adalah Dipayuda III yang disebut berasal dari keturunan
Demang Panggendolan, Arsantaka.
Cukup jelas bahwa keturunan Banyumas atau lebih dekatnya keturunan
Wirasaba di Purbalingga harus disingkirkan pengaruhnya agar nama Arsantaka lebih
harum daripada keturunan Yudanegara III. Teks Babad Banyumas agaknya juga
ikut mengharumkan nama Arsantaka yang dikatakan sebagai salah seorang demang
yang cukup heroik dalam peristiwa Perang Mangkubumen. Ketika Ngabehi Dipayuda
208
I dan beberapa demang gugur di medan perang, Arsantaka ini justru yang selamat
dari cengkeraman maut, bahkan ia menjadi orang yang sangat berjasa karena ia
berhasil menemukan jasad Ngabehi Dipayuda I yang diserahkan kepada kakaknya,
yaitu Tumenggung Yudanegara III. Karena jasa-jasanya itu, anak Arsantaka yang
bernama Arsayuda dijadikan patih untuk mendampingi Dipayuda II. Anak Arsantaka
juga dijadikan menantu oleh Tumenggung Banyumas tersebut sehingga lengkaplah
kedudukan Arsantaka dan putranya di Purbalingga. Namun, istri dari Banyumas itu
tidak ditonjolkan meskipun kedudukannya lebih tinggi daripada Arsayuda sendiri.
Penggeseran istri dari Banyumas itu dilakukan agar keturunan Banyumas tidak
menonjol lagi di Purbalingga sebagaimana hal itu juga sudah dilakukan terhadap
Dipayuda I dan Dipayuda II. Istri yang derajatnya lebih rendah yang berasal dari
putri Kanduruan I Roma itu ditampilkan sebagai pihak yang menurunkan para bupati
Purbalingga selanjutnya. Dengan demikian, Purbalingga benar-benar berusaha dengan
keras untuk menyingkirkan pengaruh Banyumas dan Wirasaba. Purbalingga sudah
berhasil menampilkan Arsantaka dan Arsayuda sebagai cikal-bakal yang baru dengan
menggeser Wirasaba sebagai pusat yang tertua. Dengan kata lain, Wirasaba tidak
mempunyai makna kesejarahan dengan para bupati Purbalingga. Purbalingga hanya
mengakui bahwa dahulu ada Wirasaba yang sekarang masuk wilayah Kecamatan
Bukateja.
Onje lebih berarti kedudukan dan hubungan kesejarahannya daripada Wirasaba.
Maka dari itu, Onje juga memerlukan klaim yang kuat dengan cara menghubungkan
diri dengan beberapa keluarga sebagai bentuk interaksi sosial, yaitu dengan Cipaku,
Medang, dan Arenan. Hubungan tersebut sangat mencolok sebagaimana dituturkan
oleh folklor yang berasal dari lokalitas tersebut, yaitu para pewaris aktif folklor yang
meliputi Go Tien Tjwan, kepala desa Mangunegaran, dan Sanurji (Penatus Onje).
Ketiga versi folklor tersebut menyatakan adanya hubungan perkawinan antara Adipati
Onje (Ore-ore menurut versi pertama dan kedua, sedangkan versi ketiga adalah
Cakrakusuma) dengan putri dari ketiga kadipaten. Putri yang pertama dikenal
dengan nama Pakuwati atau Dewi Pakuwati, putri Adipati Cipaku. Menurut ketiga
orang penutur folklor tersebut, istri dari Cipaku inilah yang memberi keturunan kepada
Adipati Ore-ore. Versi pertama dan ketiga menyebut ada lima orang anak yang
tinggal di Tegal, Cirebon, Ciamis, Cilacap, dan Onje, sedangkan versi kedua menyebut
enam orang yang tinggal di Gondokusuma, Cilacap, Cirebon, Tegalarum, Ciamis,
dan Mangunegara. Ketiga versi sepakat bahwa istri yang kedua tidak memiliki
keturunan. Namun, agaknya istri yang kedua tadi berasal dari kadipaten yang cukup
dikenal dengan luas. Versi pertama menyatakan bahwa istri kedua itu berasal dari
Medang atau Pasirluhur sehingga disebut nama dirinya, yaitu Dewi Medang. Versi
kedua menyebut nama Kalinggawati yang berasal dari Keling, sedangkan versi ketiga
hanya menyebut istri kedua berasal dari Kalingga. Di samping kawin dengan kedua
putri tadi, Adipati Ore-ore juga menikah dengan putri Adipati Arenan yang secara
sepakat disebutkan oleh ketiga orang sumber folklor, yaitu Nyi Pingen (versi pertama),
Raden Ayu Pingen atau Paingan (versi kedua), atau Nyi Paingan (versi ketiga). Nama
Pingen atau Paingan ini kiranya berpengaruh terhadap topografi lokal karena nama
itu juga dipakai untuk nama sungai yang mengalir di sebelah selatan desa Onje yang
membatasi desa itu dengan Cipaku (Tohirin 2001: 26). Dari istri yang ketiga inilah,
Adipati Ore-ore mendapatkan dua orang anak laki-laki menurut versi pertama dan
kedua, sedangkan versi ketiga tidak menyebutkan masalah tentang hal itu. Versi
kedua menyatakan bahwa kedua anak lelaki itu adalah Wangsantaka (Arsantaka)
yang tua dan Yudantaka yang muda. Versi pertama menyebut secara terbalik, yaitu
Yudantaka yang tua yang tinggal di Kalimanah sebagai petani, sedangkan yang muda
adalah Arsantaka yang menjadi pejabat demang di Panggendolan (wilayah
Kabupaten Banjarnegara). Akibat dibunuhnya istri pertama dari Cipaku dan kedua
dari Pasirluhur (atau Medang atau Kalingga), maka muncul reaksi yang cukup keras
dari Cipaku. Pasirluhur tidak bereaksi seperti halnya Cipaku. Kemungkinan Pasirluhur
tidak lagi mempersoalkan masalah pembunuhan itu lebih lanjut. Reaksi Cipaku inilah
yang memunculkan adanya pantangan atau tabu nikah atau saling berbesanan antara
Cipaku dengan Onje. Ketiga versi folklor sepakat dengan tabu tersebut, hanya ada
tambahan yang perlu dijelaskan dari versi pertama dan kedua. Tambahan pada versi
pertama menyatakan bahwa tabu itu tidak dimutlakkan, atau dengan kata lain tidak
berlaku jika kedua desa itu mempunyai dua pasang kakak-beradik laki-laki dan
perempuan atau silang laki-laki dan perempuan dengan perempuan dan laki-laki.
Cara menghambarkan atau meniadakan tabu semacam itu disebut tambangan.
Peniadaan tabu hanya disebut oleh versi yang pertama, sedangkan versi yang kedua
justru menambahkan tabu, yaitu orang Onje tidak boleh mempunyai dua orang istri
pada waktu yang bersamaan. Ketiga folklor di atas rupanya juga sepakat bahwa
tabu nikah itu dinyatakan oleh Adipati Ore-ore dan bukan Adipati Cipaku (Balai
Penelitian Sejarah dan Budaya 1981-1982: 52-54).
Kesaksian folklor mengenai tabu nikah memang tidak didukung oleh naskah
Babad Onje dan Serat Sejarah Rupi Onje yang sudah disebutkan di atas. Kedua
teks tersebut memang ada kecenderungan untuk berbicara pada wilayah politis.
Artinya, kedua teks itu menghindari penuturan yang memungkinkan adanya kesan
yang buruk terhadap Adipati Onje karena kedua teks itu memang bertujuan untuk
melegitimasikan penguasa Onje sebagai keturunan Sultan Pajang dan memegang
hegemoni politik di Onje. Jadi, kesan baik yang harus selalu ditampilkan oleh kedua
teks yang resmi, terutama Babad Onje yang amat dikeramatkan oleh masyarakat
desa Onje. Untuk membaca teks Onje tersebut, maka orang harus memenuhi syarat
tertentu dengan berbagai sesaji yang harus disiapkan. Sesaji itu meliputi tumpeng
kuat, kelapa hijau, klepon, apam pasuk, kepok, gapitan kreweng, pepesan menir,
dua biji pisang kluthuk, air teh, kopi pahit, dua buah rokok kemenyan, serta yang
paling penting adalah ayam berbulu putih. Ayam putih setelah disembelih diambil
sayap, hati, dan perut besarnya. Hati dipotong kecil-kecil, sayap bagian atas, dan
ingkung disajikan bersama dengan tumpeng kuat (Balai Penelitian Sejarah dan
Budaya 1981-1982: 54). Upacara sesaji tersebut menjadi syarat seseorang itu bisa
atau dibolehkan membaca teks Babad Onje. Penyakralan terhadap naskah Babad
Onje di desa Onje inilah yang memungkinkan banyak orang yang berusaha
menghafalkan teks tersebut dalam bentuk folklor atau ditulis kembali sebagaimana
tampak pada kasus naskah Cipaku, Serat Sejarah Rupi Onje. Karena naskah
disakralkan, maka Babad Onje tidak layak jika menuturkan peristiwa yang dianggap
aib oleh keluarga. Bagaimanapun Dewi Cipaku yang diyakini memiliki keturunan
dan mereka sebagai anak korban dan sekaligus pelaku tentu tidak sampai hati
menceritakan aib ayah mereka sebagai seorang pembunuh. Di sisi lain, mereka juga
akan selalu terkenang dan sedih jika peristiwa pembunuhan ibu mereka itu selalu
diceritakan kembali secara terus-menerus. Penyakralan terhadap naskah Babad
Onje bisa jadi merupakan upaya untuk menghapus kenangan pahit oleh keluarga
atau keturunan Adipati Onje, khususnya yang dilahirkan dari Dewi Pakuwati. Namun,
masyarakat umum masih mencatat dan mengenang peristiwa kelabu yang tidak bisa
dilupakan itu sehingga diceritakan dari mulut ke mulut secara terus-menerus dan
melahirkan folklor yang dikenal hingga sekarang.
Ada folklor yang berkaitan dengan Onje yang sudah mengalami proses penulisan
teks sehingga sekarang sudah menjadi naskah meskipun dengan judul yang menafikan
Onje, yakni naskah Babad Purbalingga dan Diktat Riwajat Purbalingga yang
ditulis oleh orang yang sama pada waktu yang berbeda. Naskah pertama ditulis
pada tahun 1939, sedangkan naskah yang kedua pada tahun 1967. Meskipun ditulis
oleh orang yang sama, yaitu A.M. Kartosoedirdjo ternyata kedua teksnya tidak
sama persis. Isi Babad Purbalingga yang berisi masalah Onje adalah nomor 1-7,
sedangkan isi Diktat Riwajat Purbalingga pada nomor 2-8. Selebihnya, baik teks
yang pertama (nomor 8-11) maupun teks yang kedua (nomor 9-12) adalah tambahan
yang menyebabkan teks Babad Onje berubah judul menjadi Babad Purbalingga
atau Diktat Riwajat Purbalingga. Dengan kata lain, teks Babad Onje adalah teks
pembuka bagi kedua teks yang baru tadi. Hubungan teks Babad Onje dengan teks
yang baru itu dilukiskan oleh penulisnya, yakni A.M. Kartosoedirdjo karena para
bupati Purbalingga itu mempunyai hubungan kekerabatan dengan Onje meskipun
agak dipaksakan bahwa seolah-olah para bupati itu keturunan Arsantaka dan
Arsantaka adalah putra Adipati Ore-ore (Adipati Onje II) dengan putri dari Arenan,
Nyai Paingen atau Paingan. Untuk memperjelas garis besar di atas, maka perlu
dibandingkan dengan kedua teks karya A.M. Kartosoedirdjo

Senin, 25 Maret 2013

NIE AD CIT GAN PAKAI AJ!!!


Kabar gembira untuk Troopers Indonesia yang ingin langsung menjadi Master Clan dan memimpin group clannya. Akses pembuatan CLAN POINTBLANK para TROPERS sekarang sudah bisa membuat CLAN, dan kami dari PT.KREON bekerjasama dengan GM GEMSCOOL INDONESIA menyediakan pendaftaran gratis untuk membuat CLAN POINTBLANK, tinggal klik link dibawah ini dan ikuti persyaratannya....
http://daftarclan.fordeon.com/newclan

Live Traffic Feed

Selasa, 05 Februari 2013

SEJARAH KERAJAAN PAJAJARAN



Kerajaan Pajajaran adalah nama lain dari Kerajaan Sunda saat kerajaan ini beribukota di kota Pajajaran atau Pakuan Pajajaran (Bogor) di Jawa Barat yang terletak di Parahyangan (Sunda). Kata Pakuan sendiri berasal dari kata Pakuwuan yang berarti kota. Pada masa lalu, di Asia Tenggara ada kebiasaan menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya. Beberapa catatan menyebutkan bahwa kerajaan ini didirikan tahun 923 oleh Sri Jayabhupati, seperti yang disebutkan dalam Prasasti Sanghyang Tapak (1030 M) di kampung Pangcalikan dan Bantarmuncang, tepi Sungai Cicatih, Cibadak, Suka Bumi.

Awal Pakuan Pajajaran

Seperti tertulis dalam sejarah, akhir tahun 1400-an Majapahit kian melemah. Pemberontakan, saling berebut kekuasaan di antara saudara berkali-kali terjadi. Pada masa kejatuhan Prabu Kertabumi (Brawijaya V) itulah mengalir pula pengungsi dari kerabat Kerajaan Majapahit ke ibukota Kerajaan Galuh di Kawali, Kuningan, Jawa Barat.

Raden Baribin, salah seorang saudara Prabu Kertabumi termasuk di antaranya. Selain diterima dengan damai oleh Raja Dewa Niskala ia bahkan dinikahkan dengan Ratna Ayu Kirana salah seorang putri Raja Dewa Niskala. Tak sampai di situ saja, sang Raja juga menikah dengan salah satu keluarga pengungsi yang ada dalam rombongan Raden Barinbin.

Pernikahan Dewa Niskala itu mengundang kemarahan Raja Susuktunggal dari Kerajaan Sunda. Dewa Niskala dianggap telah melanggar aturan yang seharusnya ditaati. Aturan itu keluar sejak “Peristiwa Bubat” yang menyebutkan bahwa orang Sunda-Galuh dilarang menikah dengan keturunan dari Majapahit.

Nyaris terjadi peperangan di antara dua raja yang sebenarnya adalah besan. Disebut besan karena Jayadewata, putra raja Dewa Niskala adalah menantu dari Raja Susuktunggal.

Untungnya, kemudian dewan penasehat berhasil mendamaikan keduanya dengan keputusan: dua raja itu harus turun dari tahta. Kemudian mereka harus menyerahkan tahta kepada putera mahkota yang ditunjuk.

Dewa Niskala menunjuk Jayadewata, anaknya, sebagai penerus kekuasaan. Prabu Susuktunggal pun menunjuk nama yang sama. Demikianlah, akhirnya Jayadewata menyatukan dua kerajaan itu. Jayadewata yang kemudian bergelar Sri Baduga Maharaja mulai memerintah di Pakuan Pajajaran pada tahun 1482.

Selanjutnya nama Pakuan Pajajaran menjadi populer sebagai nama kerajaan. Awal “berdirinya” Pajajaran dihitung pada tahun Sri Baduga Maharaha berkuasa, yakni tahun 1482.

Sumber Sejarah

Dari catatan-catatan sejarah yang ada, baik dari prasasti, naskah kuno, maupun catatan bangsa asing, dapatlah ditelusuri jejak kerajaan ini; antara lain mengenai wilayah kerajaan dan ibukota Pakuan Pajajaran. Mengenai raja-raja Kerajaan Sunda yang memerintah dari ibukota Pakuan Pajajaran, terdapat perbedaan urutan antara naskah-naskah Babad Pajajaran, Carita Parahiangan, dan Carita Waruga Guru.

Selain naskah-naskah babad, Kerajaan Pajajaran juga meninggalkan sejumlah jejak peninggalan dari masa lalu, seperti:

  • Prasasti Batu Tulis, Bogor
  • Prasasti Sanghyang Tapak, Sukabumi
  • Prasasti Kawali, Ciamis
  • Prasasti Rakyan Juru Pangambat
  • Prasasti Horren
  • Prasasti Astanagede
  • Tugu Perjanjian Portugis (padraƵ), Kampung Tugu, Jakarta
  • Taman perburuan, yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor
  • Kitab cerita Kidung Sundayana dan Cerita Parahyangan
  • Berita asing dari Tome Pires (1513) dan Pigafetta (1522)


Segi Geografis Kerajaan Pajajaran

Terletak di Parahyangan (Sunda). Pakuan sebagai ibukota Sunda dicacat oleh Tom Peres (1513 M) di dalam “The Suma Oriantal”, ia menyebutkan bahwa ibukota Kerajaan Sunda disebut Dayo (dayeuh) itu terletak sejauh sejauh dua hari perjalanan dari Kalapa (Jakarta).

Kondisi Keseluruhan Kerajaan pajajaran (Kondisi POLISOSBUD), yaitu
  • Kondisi Politik (Politik-Pemerintahan)

Kerajaan Pajajaran terletak di Jawa Barat, yang berkembang pada abad ke 8-16. Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Pajajaran, antara lain :

Daftar raja Pajajaran

  • Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521), bertahta di Pakuan (Bogor sekarang)
  • Surawisesa (1521 – 1535), bertahta di Pakuan
  • Ratu Dewata (1535 – 1543), bertahta di Pakuan
  • Ratu Sakti (1543 – 1551), bertahta di Pakuan
  • Ratu Nilakendra (1551-1567), meninggalkan Pakuan karena serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf
  • Raga Mulya (1567 – 1579), dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari PandeglangMaharaja Jayabhupati (Haji-Ri-Sunda)
  • Rahyang Niskala Wastu Kencana
  • Rahyang Dewa Niskala (Rahyang Ningrat Kencana)
  • Sri Baduga MahaRaja
  • Hyang Wuni Sora
  • Ratu Samian (Prabu Surawisesa)
  • dan Prabu Ratu Dewata.

Puncak Kejayaan/ Keemasan Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Pajajaran pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja mengalami masa keemasan. Alasan ini pula yang banyak diingat dan dituturkan masyarakat Jawa Barat, seolah-olah Sri Baduga atau Siliwangi adalah Raja yang tak pernah purna, senantiasa hidup abadi dihati dan pikiran masyarakat.

Pembangunan Pajajaran di masa Sri Baduga menyangkut seluruh aspek kehidupan. Tentang pembangunan spiritual dikisahkan dalam Carita Parahyangan.

Sang Maharaja membuat karya besar, yaitu ; membuat talaga besar yang bernama Maharena Wijaya, membuat jalan yang menuju ke ibukota Pakuan dan Wanagiri. Ia memperteguh (pertahanan) ibu kota, memberikan desa perdikan kepada semua pendeta dan pengikutnya untuk menggairahkan kegiatan agama yang menjadi penuntun kehidupan rakyat. Kemudian membuat Kabinihajian (kaputren), kesatriaan (asrama prajurit), pagelaran (bermacam-macam formasi tempur), pamingtonan (tempat pertunjukan), memperkuat angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan dan menyusun undang-undang kerajaan

Pembangunan yang bersifat material tersebut terlacak pula didalam Prasasti Kabantenan dan Batutulis, di kisahkan para Juru Pantun dan penulis Babad, saat ini masih bisa terjejaki, namun tak kurang yang musnah termakan jaman.

Dari kedua Prasasti serta Cerita Pantun dan Kisah-kisah Babad tersebut diketahui bahwa Sri Baduga telah memerintahkan untuk membuat wilayah perdikan; membuat Talaga Maharena Wijaya; memperteguh ibu kota; membuat Kabinihajian, kesatriaan, pagelaran, pamingtonan, memperkuat angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan dan menyusun undang-undang kerajaan

Puncak Kehancuran

Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten. Berakhirnya zaman Pajajaran ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgahsana raja), dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.

Batu berukuran 200x160x20 cm itu diboyong ke Banten karena tradisi politik agar di Pakuan Pajajaran tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru, dan menandakan Maulana Yusuf adalah penerus kekuasaan Sunda yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja. Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surosowan di Banten. Masyarakat Banten menyebutnya Watu Gilang, berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.

Kondisi Kehidupan Ekonomi

Pada umumnya masyarakat Kerajaan Pajajaran hidup dari pertanian, terutama perladangan. Di samping itu, Pajajaran juga mengembangkan pelayaran dan perdagangan. Kerajaan Pajajaran memiliki enam pelabuhan penting, yaitu Pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara, Sunda Kelapa (Jakarta), dan Cimanuk (Pamanukan)

Kondisi Kehidupan Sosial

Kehidupan masyarakat Pajajaran dapat di golongan menjadi golongan seniman (pemain gamelan, penari, dan badut), golongan petani, golongan perdagangan, golongan yang di anggap jahat (tukang copet, tukang rampas, begal, maling, prampok, dll)

Kehidupan Budaya

Kehidupan budaya masyarakat Pajajaran sangat di pengaruhi oleh agama Hindu. Peninggalan-peninggalannya berupa kitab Cerita Parahyangan dan kitab Sangyang Siksakanda, prasasti-prasasti, dan jenis-jenis batik.

Kesimpulan

  • Kerajaan Pajajaran adalah nama lain dari Kerajaan Sunda saat kerajaan ini beribukota di kota Pajajaran atau Pakuan Pajajaran (Bogor) di Jawa Barat yang terletak di Parahyangan (Sunda).
  • Sumber sejarahnya berupa prasati-prasati, tugu perjanjian, taman perburuan, kitab cerita, dan berita asing.
  • Kerajaan Pajajaran pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja mengalami masa keemasan/ kejayaan dan Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten.